Semarak Porseni PAC IPNU IPPNU Paciran 2013

Nampaknya pergerakan pelajar-pelajar NU yang tergabung dalam IPNU-IPPNU di Kecamatan Paciran tak surut kobarkan sayap semangatnya, Selasa 2 Juli 2013 sampai Kamis 4 Juli 2013 kemarin IPNU-IPPNU Kecamatan Paciran melaksanakan acara Pekan Olahraga dan Seni (Porseni).

Semarak event dua tahunan tersebut dipusatkan di Desa Kemantren Kecamatan Paciran  Lamongan. Berbagai macam perlombaan menghiasi kegiatan tersebut diantaranya adalah 7 cabang olah raga yaitu tenis meja, bola voly, bola basket, takrow, catur, bulu tangkis, futsal dan 12 cabang seni yaitu karnaval, mars dan hymne, qosidah, komedi, pidato Bahasa Jawa, kaligrafi, tata boga, baca kitab, shalawat nabi, MTQ, dan baca puisi.

Antusias yang begitu kuat dari kader-kader IPNU-IPPNU, terbukti dari laporan ketua panitia Rony Priyono, kehadiran peserta cukup menggembirakan. Lebih dari 1.000 peserta mengikutinya, dan kesemuanya merupakan perwakilan dari anggota ranting dan komisarita se-Kecamatan Paciran. "Ranting/Komisariat yang mengikuti porseni ini berjumlah 13 ranting dan 5 Komisariat," lapornya.

Lebih jauh ketua PAC. IPNU Kecamatan Paciran Ahmad Miftahuddin mengatakan kegaiatanya itu memiliki tujuan sebagai forum silaturahmi, menanamkan jiwa semangat dan sportif antar kader, menggali potensi minat dan bakat kader organisasi, dan memupuk loyalitas yang tinggi IPNU-IPPNU sebagai organiasasi pelajar.

Porseni yang menggambil tema "Gali Potensi, Raih Prestasi, Dengan Jiwa Sportifitas Yang Tinggi" itu di buka oleh Sekcam Paciran Bapak Sukri, SH., M.Si. yang dalam sambutanya menggris bawahi pentingnya menjaga sprotifitas dalam sebuah kompetisi .
Yang berbeda dari porseni sebelumnya, kali ini dilaksanakan pula Orasi Ilmiyah dalam rangkaian Pekan Olah raga dan Seni oleh Ibu Hj. Khofifah Indar Parawansa (Ketua Umum PP. Muslimat NU).
Dan setelah berlangsung berbagai pertandingan dan perlombaan dalam waktu 3 hari itu maka ditetapkan Juara masing-masing perlombaan serta Juara Umum.

Tampil sebagai juara umum PK. IPNU IPPNU MA. Mazro'atul Ulum Paciran dengan mampu menjuarai 10 lomba dan 2 lomba menjadi runner up.

Para pemenang mendapatkan tropi juara dan piagam perhargaan serta untuk juara umum berhak meraih tropi bergilir.

Siapapun juaranya semoga “IPNU IPPNU Semakin Jaya”.



































Ibu Khofifah Sampaikan Orasi Ilmiah dalam Porseni 2013 PAC Paciran

Ketua Umum PP Muslimat NU Ibu Hj. Khofifah Indar Parawansa menyampaikan Orasi ilmiah dalam rangkaian Pekan Olah Raga dan Seni PAC IPNU IPPNU Paciran tahun 2013, di Halaman MA. Tarbiyatus Syibyan Kemantren, Kecamatan Paciran, Lamongan, Rabu (3/7).












Ribuan Pelajar Ikuti Karnaval Porseni PAC IPNU IPPNU Paciran

Ribuan pelajar se-Kecamatan Paciran mengikuti karnaval Pekan Olah Raga dan Seni PAC IPNU IPPNU Paciran, Selasa(2/7/2013).

Ribuan pelajar peserta porseni ini menampilkan berbagai ketrampilan peragaan busana sesuai tema yang diusung tiap kontingen. Sebanyak 4 Drum Band memeriahkan karnaval tersebut yaitu Drum Band MI Tarbiyatus Shibyan, Drum Band Remas Nor Rohmat Sendangduwur, Drum Band PR. Tunggul dan Drum Band PR. Sendangagung.

Dimulai dari halaman MA. Tarbiyatus Shibyan Kemantren, peserta bergerak menuju ke barat-Jl. Cinde Amoh-Memasuki Desa Kemantren-Sampai di Jl. Maulana Ishaq dan kemudian kembali menuju MA. Tarbiyatus Shibyan. Peserta harus menempuh jarak sekitar dua kilometer guna menelusuri perayaan karnaval itu. 

Karnaval ini disambut meriah oleh ribuan pengunjung disepanjang jalan yang dilalui peserta.

Pantia Porseni menegaskan, Kontingen terbaik dalam karnaval ini bakal mendapatkan trofi dan piagam penghargaan. Untuk kriteria pemenangnya, panitia menentukan ada lima sasaran penilaian dalam karnaval itu. Kelimanya yaitu jumlah peserta, kreativitas, kedisiplinan, kekompakan dan kerapian. 





















Pembukaan PORSENI 2013 Berjalan dengan Khidmat


Pembukaaan acara Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) PAC. IPNU IPPNU Paciran di Halaman MA. Tarbiyatus Shibyan Kemantren, Kecamatan Paciran, Lamongan, berlangsung dengan Khidmat.

Acara itu dibuka oleh Sekcam Paciran Bapak Sukri, SH., M.Si dengan memukul Bass Drum sebagai tanda dimulainya even dua tahun itu. Hadir pada acara itu PC IPNU IPPNU Lamongan, MWC NU Paciran dan Banom-banomnya serta para Pembina IPNU IPPNU Paciran.

Sekcam Paciran Bapak Sukri, SH., M.Si mengatakan, dengan kegiatan tersebut hendaknya bisa melahirkan pelajar dan pemuda yang handal. Hal ini tidak lepas jika agama pun juga menganjurkan supaya umat manusia menjaga kesehatan. Guna mencapai itu ialah dengan cara berolahraga.


Ketua IPNU, Ahmad Miftahuddin mengatakan, kegiatan Porseni berlangsung selama tiga hari mulai tanggal 2 hingga 4 Juli 2013 dengan mempertandingan tujuh cabang olahraga dan 12 cabang seni. “Porseni diikuti sebanyak 18 PR/PK IPNU IPPNU yang ada di Kecamatan Paciran, dan Kami berharap agar seluruh peserta bisa bertarung dengan sportif”.

Upacara pembukaan yang dimulai jam 09.00 ini berlangsung selama 1 jam. Setelah selesai dilanjutkan dengan Devile Kontingen dan Karnaval yang dimeriahkan oleh dua Group Drum Band dari MI Tarbiyatus Shibyan dan Remas Sendangduwur.





Teks Lomba Baca Puisi Porseni 2013

Orang-Orang Miskin
Oleh : W.S. Rendra

Orang-orang miskin di jalan,
yang tinggal di dalam selokan,
yang kalah di dalam pergulatan,
yang diledek oleh impian,
janganlah mereka ditinggalkan.

Angin membawa bau baju mereka.
Rambut mereka melekat di bulan purnama.
Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
mengandung buah jalan raya.

Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
Tak bisa kamu abaikan.

Bila kamu remehkan mereka,
di jalan kamu akan diburu bayangan.
Tidurmu akan penuh igauan,
dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
bagai udara panas yang selalu ada,
bagai gerimis yang selalu membayang.
Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
tertuju ke dada kita,
atau ke dada mereka sendiri.
O, kenangkanlah :
orang-orang miskin
juga berasal dari kemah Ibrahim


Yogya, 4 Pebruari 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi


====================================================

Sajak Sebatang Lisong
Oleh : W.S. Rendra

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.


19 Agustus 1977
ITB Bandung

====================================================

Aku Tulis Pamplet Ini
Oleh : W.S. Rendra

Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an

Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang

Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

yang teronggok bagai sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.
Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !

Pejambon Jakarta 27 April 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi